Tag Archives: Hari Hak Asasi Manusia Sedunia

09Dec/16
Hari HAM Dunia.jpg.web

Selamat Hari Hak Asasi Manusia Sedunia, 10 Desember 2016

gautama budi

Gautama Budi Arundhati , SH., LL.M: “HAM merupakan ‘seperangkat hak’ yang dimiliki setiap individu secara natural”.

Mengerti ataupun tidak kita sebagai masyarakat tentang masalah HAM,  dan tak ayal lagi setiap tanggal 10 Desember  tak  hanya di Indonesia tapi seluruh Dunia memperingati Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional, kebebasan berpendapat, kebebasan beribadah, kebebasan dari kemiskinan, dan kebebasan dari rasa takut. Kebebasan-kebebasan tersebut dipandang relevan dan sejalan dengan Hak Asasi Manusia Saat Ini.

“HAM merupakan ‘seperangkat hak’ yang dimiliki setiap individu secara natural, namun pengaturannya mengikuti perkembangan peradaban manusia yang berhubungan dengan kesadaran masyarakat akan hak-haknya dan kemauan penguasa untuk melindunginya” begitulah Gautama Budi Arundhati , SH., LL.M., menyatakan pendapatnya.

Dosen Fakultas Hukum Universitas Jember ini juga mengungkapkan tentang sejarah perkembangan Hak Asasi Manusia di Indonesia, perkembangan HAM yang terdorong berdasar konsep gotong royong terbentuk dalam budaya bangsa.

“HAM di Indonesia menurut saya sudah ada sejak konsep ‘gotong-royong’ terbentuk dalam budaya bangsa Indonesia” katanya.

Pengajar mata kuliah “Hukum HAM” tersebut juga menambahkan “HAM terbentuk jauh sebelum negara Indonesia itu sendiri terlahir sebagai negara, karena gotong royong mensyaratkan akan adanya toleransi, dan toleransi hanya dapat terbentuk melalui rasa ‘saling menghormat”.

Gautama mengatakan di Indonesia pengaturan tentang HAM telah dituangkan dalam Undang-Undang Dasar 1945,  “dalam Ayat (1) Pasal 28I Undang-Undang Dasar 1945 menyatakan bahwa “Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun”.

Dia menjelaskan, “hal ini menunjukkan adanya ‘non derogable rights’ yang diakui dan dilindungi oleh ‘the supreme law of the land”. katanya.

Gautama juga menambahkan “Namun demikian terdapat pembatasan yang berlebihan dalam Ayat (2) Pasal 28J Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan bahwa” Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata. untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis,… pembatasan yang berlebihan yang saya maksud adalah kalimat ‘pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang”, tambahnya.

Continue reading

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • LinkedIn
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS