22Aug/16
novan

Menakar ulang pemaknaan kemerdekaan Indonesia?

Menakar ulang pemaknaan kemerdekaan Indonesia?

novan

 Oleh: Novan Aulia Rahman

Mahasiswa Program Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Universitas Jember

Memperingati kemerdekaan Indonesia seharusnya tidak boleh lepas dari bagaimana founding father bangsa ini memaknainya, sebagaimana terungkap dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia ini lahir atas berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dorongan kuat keinginan yang luhur. Jadi ada kesadaran spiritual dari para pendiri bangsa ini bahwa kemerdekaan ini tercapai sebab adanya peran Allah Tuhan Yang Maha Kuasa yang dengan rahmatNya menggerakkan para pahlawan Indonesia mempunyai keinginan kuat untuk membebaskan negerinya dengan keberanian dan pengorbanan yang tak ternilai.

Landasan spiritual inilah yang melahirkan totalitas perjuangan meski tanpa liputan media atau bahkan banyak nama yang tak tertulis dalam sejarah, tetapi output dari perjuangan mereka dapat kita rasakan. Inilah pesan besar yang harus tersampaikan pada generasi sekarang dan menjadi spirit di era yang banyak orang menyebutkan penuh dengan dunia pencitraan. Dimana banyak yang berorientasi pada citra bukan pada karya, hingga merasa cukup dengan publikasi media meskipun minim karya yang dirasakan di masyarakat. Ini bukan berarti kebaikan prestasi itu tidak boleh diliput, tetapi jangan sampai itu menjadi orientasi sehingga menjadikan turun semangatnya jika tidak ada publikasi.

Dalam konteks pelajar dan mahasiswa, semangat berkarya ini menjadi hal penting dimana demam selfie banyak menjangkit di era social media sekarang yang sepertinya lebih banyak dihiasi dengan hal-hal yang bersifat hiburan. Maka salah satu hal yang produktif dalam memperingati kemerdekaan adalah memenuhi halaman social media kita dengan karya-karya nyata mulai dari ide-ide yang bisa kita dijadikan solusi di sekitar kita sampai pada produk-produk ilmiah yang bermanfaat bagi masyarakat Indonesia.

Continue reading

22Aug/16
bendera

Berubah atau Punah

Berubah atau Punah

yuliana

Oleh: Yuliana

( Mahasiswa Program Studi Multidisplin Bioteknologi Program Pascasarjana Universitas Jember)

Hidup di era globalisasi erat kaitannya dengan teknologi. Perkembangan teknologi yang mutakhir dan canggih menjadi poros perubahan yang sulit dikendalikan. Sedangkan perubahan dinamis memaksa setiap individu untuk siap mengikuti cepatnya perubahan dengan keterampilan dan pengetahuan. Seperti halnya kejayaan Nokia yang merajai produsen ponsel terbesar di dunia selama 14 tahun. Brand yang terkenal dengan label connecting people ini menyuguhkan berbagai kelebihan seperti keunikan desain dan keawetannya (termasuk tahan banting dan tahan air). Namun, lambatnya menyadari perubahan jaman dan terlalu asyik dengan kejayaan masa lalu membuat perusahaan brand ini dibeli oleh kubu Android dan Apple. Sangat disayangkan bukan?

Perubahan biasanya identik dengan kalangan pemuda. Semangat para pemuda seakan mampu menyihir kalangan masyarakat untuk ikut melakukan perubahan yang diciptakannya. Mulai dari gaya hidup, pola pikir, dan budaya sangat cepat meluas dengan sebutan trend terkini. Para pemuda juga menciptakan trend up to date pada waktu – waktu tertentu. Misalnya, di bulan Agustus yang notabene adalah bulan kemerdekaan Indonesia. Mereka menciptakan kegiatan ataupun lomba – lomba untuk memeriahkannya. Semangat bersaing yang menggebu sangat terasa di bulan ini. Ditambah lagi dengan hadiah – hadiah menggiurkan yang memikat para pesertanya untuk memenangkan setiap perlombaan. Ternyata tidak hanya partisipasi belaka, ada harga diri dan kebanggan (kelompok) yang dipertaruhkan. Semacam mendapat bahan bakar tambahan yang ampuh untuk bisa menang. Sedangkan kelompok pemuda lain bersemangat menempuh jarak berkilo – kilometer untuk sekadar mengibarkan Sang Saka Merah Putih di ketinggian gunung. Tidak ada yang salah, karena arti kemerdekaan bagi setiap orang berbeda.

Continue reading

22Aug/16
bendera

ENERGI MERDEKA

Energi Merdeka

Oleh: Dewi Puspa Arisandi

(Mahasiswa Program Studi Multidisplin  Magister Bioteknologi

Program Pascasarjana Universitas Jember)

71 tahun sudah Indonesia merdeka.

Bagi saya kemerdekaan Indonesia adalah bukan tentang apa yang sudah kita rasakan dan dapatkan dari Indonesia selama 71 tahun ini. Namun, tentang apa yang sudah kita beri pada pembangunan Indonesia, yaitu pada dunia pendidikan Indonesia, perekonomian Indonesia, sosial budaya Indonesia, lingkungan Indonesia, dan segi kehidupan Indonesia lainnya. Bagi saya ya memang beginilah Indonesia, dengan segala permasalahan di dalamnya. Tentang pengangguran yang semakin tahun bertambah, tentang kemacetan yang masih belum teratasi, tentang ketimpangan sosial, tentang masalah kriminal dimana-mana, dan masalah-masalah lainnya. Indonesia belum sempurna dan jauh dari kata sempurna. Namun, Indonesia bukan negara yang tidak layak di perjuangkan. Indonesia harus di perjuangkan. Siapa yang harus memperjuangkan adalah kita. Kita yang bekerja dengan menggunakan energi merdeka untuk hal-hal positif. Kita yang melakukan kebaikan untuk Indonesia dengan iklas tanpa terpaksa sebagai hadiah kepada Indonesia yang telah memberikan kemerdekaan.

22Aug/16
bendera

MEMAKNAI PERINGATAN HUT REPUBLIK INDONESIA KE-71 DI ERA PEMBANGUNAN EKONOMI KERAKYATAN

MEMAKNAI PERINGATAN HUT REPUBLIK INDONESIA KE-71
DI ERA PEMBANGUNAN EKONOMI KERAKYATAN

FAUZAN MUTTAQIEN

Oleh: Fauzan Muttaqien

(Mahasiswa Doktor Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisinis Universitas Jember)

NKRI kini telah berusia 71 tahun (17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2016). Jika seluruh elemen masyarakat memperingatinya dengan upacara dan berbagai bentuk kegiatan yang mengekspresikan kebahagiaan, itu berarti rakyat Indonesia juga diminta mengingat kembali “apa-apa” yang telah diperbuat oleh Founding Fathers Republik Indonesia. Sebut saja Bung Karno, Bung Hatta, Dr. Wahidin Soediro Husodo, Dr. Soetomo, KH Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan dll. Bahkan semua elemen bangsa juga diminta untuk memperhatikan “nilai dan kebijakan” pemerintahan yang telah dilakukan para Presiden RI hingga Presiden Joko Widodo yang saat ini masih menjabat.

Fakta menyatakan bahwa para pendahulu kita telah berhasil mengantar rakyat Indonesia yang terjajah menjadi bangsa merdeka di bawah naungan NKRI dari sabang sampai merauke. Para kepala pemerintahan telah mengukir sejarah perubahan “nilai dan kebijakan” di berbagai bidang kehidupan menuju semangat revolusi indonesia “Menciptakan Masyarakat Adil Makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945”. Tugas rakyat Indonesia saat ini adalah menjaga eksistensi Negara dan Bangsa dari bahaya “penjajahan gaya baru, ancaman separatisme. Neo kolonialisme harus dihapuskan dari bumi Indonesia, Pancasila sebagai dasar Negara dan UUD 1945 sebagai landasan konstitusional adalah harga mati dalam tata pemerintahan NKRI. Lebih tepat lagi saat ini kita harus menegakkan 4 pilar kebangsaan (Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tungal Ika). Demikianlah misi kehidupan rakyat Indonesia dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang sering didengungkan dan kita dengar dalam pidato-pidato seremonial kenegaraan maupun orasi politik.

Continue reading